Jumat, 23 Maret 2018

Pendekatan Open-Ended


PENDEKATAN OPEN-ENDED
DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA


PENDIDIKAN MATEMATIKA
Pendidikan matematika di Indonesia berkembang sejalan dengan perkembangan matematika di dunia. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan-perubahan yang selain dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, seringkali diawali juga dengan adanya perubahan pandangan tentang hakekat matematika serta pembelajarannya.
Perubahan pandangan tentang hakekat matematika ini sangat dipengaruhi oleh terjadinya perkembangan mengenai teori belajar, baik umum maupun khusus terkait tentang belajar matematika dan walaupun perubahan ini terjadi secara perlahan, namun sudah ada upaya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran matematika.
Perubahan kurikulum matematika sekolah telah terjadi beberapa kali sejak tahun 1968. Berdasarkan tahun terjadinya perubahan untuk tiap kurikulum, maka terdapat beberapa nama kurikulum, yaitu Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1996, Kurikulum 1999, Kurikulum 2013. Selain itu, sebelum muncul Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di tahun 2006, pada tahun 2002 telah disusun sebuah kurikulum yang disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Berbagai studi tentang perkembangan intelektual manusia telah menghasilkan sejumlah teori belajar yang sangat bervariasi. Tiap teori dapat dipandang sebagai suatu metoda untuk mengorganisasi serta mempelajari berbagai variabel yang berkaitan dengan belajar dan perkembangan intelektual, dan dengan demikian guru dapat memilih serta menerapkan elemen-elemen teori tertentu dalam pelaksanaan pengajaran di kelas.
Dari teori-teori yang dikembangkan itu, akhirnya muncul pendekatan-pendekatan baru yang menjadi acuan upaya perbaikan pembelajaran, baik bagi peneliti maupun guru-guru matematika di lapangan, antara lain adalah Pendekatan Realistic Mathematics Education, Pendekatan Open-Ended, dan Pendekatan Kontekstual
  
PENDEKATAN OPEN-ENDED MATEMATIKA
Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali dihadapkan pada masalah. Permasalahan-permasalahan itu tentu tidak semuanya merupakan permasalahan matematis. Namun, matematika memiliki peranan sentral dalam menjawab permasalahan keseharian itu.
Tidak sedikit guru matematika yang merasa kesulitan dalam membelajarkan siswa bagaimana menyelesaikan masalah matematika. Kesulitan itu lebih disebabkan suatu pandangan yang mengatakan bahwa jawaban akhir dari suatu permasalahan merupakan tujuan utama dari pembelajaran. Prosedur siswa dalam menyelesaikan permasalahan kurang (atau bahkan tidak) diperhatikan oleh guru, karena terlalu berorientasi pada kebenaran jawaban akhir. Padahal perlu disadari bahwa proses penyelesaian suatu masalah yang dikemukakan siswa merupakan tujuan utama dalam pembelajaran pemecahan masalah matematika.
Dari situlah akhirnya, muncul problem yang yang diformulasikan agar memiliki multijawaban yang benar yang disebut problem tak lengkap atau disebut juga problem open-ended atau problem terbuka. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan Suherman, dkk. (dalam Wirahadie, 2017).
Pendekatan berdasarkan masalah dalam pembelajaran matematika sebenarnya bukan hal yang baru, karena Polya telah mengembangkannya sejak tahun 1940-an (dalam Amirudin, dkk., 2012). Namun, pendekatan ini mendapat perhatian luas lagi mulai tahun 1980-an sampai sekarang, yaitu dengan dikembangkannya pendekatan pemecahan masalah berbentuk terbuka (open-ended) ini di Jepang.
Pendekatan open-ended merupakan hasil serangkaian penelitian para ahli pendidikan matematika Jepang, satu di antaranya adalah Shimada (Amirudin, dkk., 2012) antara tahun 1971-1976.
Menurut Shimada (dalam buku Bahan Ajar Pendidikan & Latihan Profesi Guru, 2009) pada pembelajaran matematika, rangkaian dari pengetahuan, keterampilan, konsep, prinsip, atau aturan diberikan kepada siswa biasanya melalui langkah demi langkah. Tentu saja rangkaian ini diajarkan tidak sebagai hal yang saling terpisah atau saling lepas, namun harus disadari sebagai rangkaian yang terintegrasi dengan kemampuan dan sikap dari setiap siswa, sehingga di dalam pikirannya akan terjadi pengorganisasian intelektual yang optimal.
Rangkaian penelitiannya adalah studi pengembangan metoda evaluasi dalam pendidikan matematika (tahun 1971), studi pengembangan metoda evaluasi dan analisis pengaruh faktor-faktor belajar dalam matematika (tahun 1972-1973), dan studi pengembangan metoda evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa dalam keterampilan berpikir matematika tingkat tinggi (tahun 1974-1976).
Anthony (dalam Amirudin, dkk., 2012) mengemukakan bahwa pemberian tugas matematika rutin yang diberikan pada latihan atau tugas-tugas matematika selalu terfokus pada prosedur dan keakuratan, jarang sekali tugas matematik terintegrasi dengan konsep lain dan juga jarang memuat soal yang memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Memperhatikan hal tersebut, maka pendekatan open-ended dapat memberikan solusi bagi masalah di atas.
Tujuan dari pembelajaran open-ended problem adalah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa melalui problem posing secara simultan.
Dari perspektif di atas, pendekatan open-ended menjanjikan suatu kesempatan kepada siswa untuk menginvenstigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuan mengelaborasi permasalahan. Inilah yang menjadi pokok pikiran pembelajaran dengan open-ended, yanitu pembelajaran yang membangun kegiatan interaktif antara matematika dan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan melalui berbagai strategi. Perlu digarisbawahi bahwa kegiatan matematik dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga aspek berikut:
1.     Kegiatan siswa harus terbuka
Maksud kalimat ini adalah kegiatan pembelajaran harus mengakomodasi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas dan benar sesuai kehendak mereka.
2.     Kegiatan matematik adalah ragam berpikir
Kegiatan matematika adalah kegiatan yang di dalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam dunia matematika atau sebaliknya. Pada dasarnya kegiatan matematika akan mengundang proses manipulasi dan manifestasi dalam dunia matematika. Di situlah ragam berpikir terjadi. 
3.     Kegiatan siswa dan kegiatan matematik merupakan satu kesatuan
Pada dasarnya, pendekatan open-ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan. Oleh karena itu, hal yang perlu diperhatikan adalah kebebasan siswa untuk berpikir dalam membuat peningkatan pemecahan sesuai dengan kemampuan, sikap, dan minatnya sehingga pada akhirnya akan membentuk intelegensi matematika siswa.
Secara konseptual, masalah terbuka dalam pembelajaran matematika adalah masalah atau soal-soal matematika yang dirumuskan sedemikian rupa, sehingga memiliki beberapa atau bahkan banyak solusi yang benar, dan terdapat banyak cara untuk mencapai solusi itu. Pendekatan ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mendapat pengalaman dalam menemukan sesuatu yang baru (Schoefeld dalam Amirudin, dkk., 2012).
Pendekatan open-ended dalam pembelajaran matematika sangat tergantung pada masalah yang disajikan. Nohda (dalam Sumardyono, dkk., 2017) mengemukakan bahwa jenis masalah yang digunakan dalam pendekatan pembelajaran open-ended ini adalah masalah yang tidak rutin (non-routine problems). Masalah tidak rutin yang disajikan bersifat terbuka.
Lebih lanjut dikemukakan bahwa dasar keterbukaan (openness) dapat dikategorikan ke dalam tiga tipe, yaitu:
1.      prosesnya terbuka (process is open), maksudnya adalah keterbukaan pada banyak cara penyelesaian yang benar;
2.      hasil akhir yang terbuka (end product are open), maksudnya adalah keterbukaan pada jawaban benar yang banyak; dan
3.      cara mengembangkannya terbuka (ways to develop are open), maksudnya adalah keterbukaan pada pengembangan masalah baru lebih lanjut.

MENGKONSTRUKSI PROBLEM OPEN-ENDED
Sebenarnya tidak mudah mengembangkan problem open-ended yang tepat dan baik untuk siswa dengan beragam kemampuan. Melalui penelitian yang panjang di Jepang itulah, ditemukan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam mengkreasi problem tersebut, di antaranya:
1.      sajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata di mana konsep-konsep matematika dapat diamati dan dikaji siswa;
2.      soal-soal pembuktian dapat diubah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat-sifat dari variabel dalam persolana itu;
3.      sajikan bentuk-bentuk atau bangun-bangun (geometri) sehingga siswa dapat membuat suatu konjektur;
4.      sajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa dapat menemukan aturan matematika;
5.      berikan beberap contoh konkrit dalam beberapa kategori sehingga siswa bisa mengelaborasi sifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat yang umum;
6.      berikan beberapa latihan serupa sehingga siswa dapat menggeneralisasi dari pekerjaannya.
(Sumber: buku Bahan Ajar PLPG)

MENGEMBANGKAN RENCANA PEMBELAJARAN
Setelah guru menyusun suatu masalah open-ended dengan baik, langkah selanjutnya adalah mengembangkan rencana pembelajaran (Wirahadie, 2017)
Pada tahap ini, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1.      Tuliskan respon siswa yang diharapkan.
Siswa diharapkan merespon masalah yang diberikan dengan berbagai cara. Namun, mengingat kemampuan siswa dalam mengemukakan gagasan dan pikirannya masih terbatas, maka guru perlu menuliskan daftar antisipasi respon siswa terhadap masalah. Hal ini diperlukan sebagai upaya mengarahkan dan membantu siswa memecahkan masalah sesuai dengan cara dan kemampuannya.
2.      Tujuan yang harus dicapai dari masalah yang diberikan harus jelas.
Guru harus benar-benar memahami peran masalah yang akan diberikan kepada siswa dalam keseluruhan pembelajaran. Apakah masalah yang akan diberikan kepada siswa diperlakukan sebagai pengenalan konsep baru atau sebagai rangkuman dari kegiatan belajar siswa. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, masalah open-ended akan efektif digunakan untuk pengenalan konsep baru atau dalam merangkum kegiatan belajar. 
3.      Sajikan masalah dengan cara dan bentuk yang menarik.
Mengingat pemecahan masalah open-ended memerlukan waktu untuk berpikir, maka konteks permasalahan yang disampaikan harus dikenal baik oleh siswa dan harus menarik perhatian serta membangkitkan semangat intelektual.
4.      Berikan informasi dalam masalah selengkap mungkin, sehingga siswa dengan mudah dapat memahami maksud dari masalah yang disampaikan.
Siswa dapat mengalami kesulitan memahami masalah dan memecahkannya apabila penjelasan masalah terlalu ringkas.
5.      Berikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mengeksplorasi masalah.
Guru harus memperhitungkan waktu yang dibutuhkan siswa untuk memahami masalah, mendiskusikan kemungkinan pemecahannya, dan merangkum apa yang telah dipelajari. Oleh karena itu, guru dapat membagi waku dalam dua periode. Periode pertama, siswa bekerja secara individual atau kelompok dalam memecahkan masalah dan membuat rangkuman dari hasil pemecahan masalah. Periode kedua, digunakan untuk diskusi kelas mengenai strategi da pemecahan serta penyimpulan dari guru.

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PENDEKATAN OPEN-ENDED DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Dalam pendekatan open-ended,guru memberikan permasalahan kepada siswa yang solusinya tidak perlu ditentukan hanya melalui satu jalan saja. Guru harus memanfaatkan keragaman cara atau prosedur yang ditempuh siswa dalam menyelesaikan masalah. Hal tersebut akan memberikan pengalaman pada siswa dalam menemukan sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan, keterampilan, dan cara berpikir matematis yang telah diperoleh sebelumnya.
Beberapa keunggulan dari pendekatan open-ended ini adalah:
1.      Siswa lebih memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan setiap pendapatnya berdasarkan pengethuan yang telah dimiliki sebelumnya.
2.      Siswa dari kelompok lemah tetap dapat mengikuti pembelajaran dengan mengekspresikan penyelesaian masalah melalui cara-cara mereka sendiri.
3.      Munculnya ide-ide kreatif dari siswa yang kadang-kadang tidak terduga.
4.      Siswa terdorong memberikan alasan dan bukti atas jawaban yang diberikan.
5.      Siswa mendapatkan benyak pengalaman melalui temuannya sendiri maupun temuan dari temannya dalam menyelesaikan masalah.

Di samping keunggulan, pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:
1.      Bagi guru bukan pekerjaan yang mudah untuk merumuskan masalah atau situasi matematis yang bermakna bagi siswa dan relevan dengan tujuan pembelajaran.
2.      Siswa sering kebingungan merespon jawaban dari masalah yang diberikan.
3.      Karena jawaban dari soal open-ended bersifat bebas, maka siswa kelompok pandai seringkali merasa cemas bahwa jawabannya akan tidak memuaskan.
4.      Ada kecenderungan bahwa siswa merasa kurang senang mengikuti pembelajaran karena tidak mendapatkan kesimpulan.

PENDEKATAN OPEN-ENDED MATEMATIKA DI SEKOLAH
Fardah (2012) pernah melakukan penelitian untuk menganalisa proses dan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam matematika melalui tugas Open-Ended. Hasilnya adalah pada siswa kategori tinggi dengan kemampuan tinggi dalam bidang matematik (high-level), produk berpikir kreatifnya berbagai macam dan berbagai kategori, bahkan respon yang mereka berikan berbeda jika dibandingkan siswa yang lain. Hasil yang mereka berikan juga cukup rinci dan lengkap. Produk berpikir kreatif dari siswa berkemampuan rendah tidak bervariasi dan bahka respon yang mereka berikan sangat sedikit dan sangat umum. Penguraian jawaban pun tidak rinci dan tidak lengkap. Namun, guru memberikan kesempatan lebih banyak pada siswa untuk mengeksplorasi berbagai macam jawaban maupun cara penyelesaian dengan memperhatikan kelancaran, keluwesan, keaslian, dan keterincian.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh suatu kesimpulan umum antara lain bahwa tujuan pembelajaran tingkat tinggi dimungkinkan untuk dikembangkan melalui pendekatan yang bersifat open-ended. Perkembangan perolehan komponen-komponen pengetahuan dan keterampilan yang berguna untuk mencapai tujuan pembelajaran tingkat tinggi, tidak hanya tergantung pada kemampuan bawaan siswa (talenta), akan tetapi juga sangat dipengaruhi secara signifikan oleh model pembelajaran yang dikembangkan guru, khususnya yang mampu menciptakan kesempatan dan dorongan bagi siswa untuk berkembang.
Terkait dengan pengalaman mengenai pendekatan open-ended, penulis sendiri pernah memberikan pertanyaan matematika yang walaupun jawaban akhirnya sama, namun siswa dapat memberikan cara dengan jalan yang berbeda.
Masalah matematika yang disajikan adalah terkait masalah kontekstual dalam materi pecahan. Berikut adalah beberapa foto yang penulis miliki.


Gambar 1. Beberapa siswa menuliskan jawaban dengan beberapa cara yang berbeda.


 Gambar 2. Jawaban siswa (cara yang berbeda menghasilan jawaban akhir yang sama)

Menarik sekali memperhatikan hasil buah pemikiran siswa yang beragam, namun memberikan jawaban akhir yang sama. Sesuai dengan satu dari tiga tipe keterbukaan (openess), yaitu prosesnya terbuka (process is open), maksudnya adalah keterbukaan pada banyak cara penyelesaian yang benar.

KESIMPULAN
Pendidikan, kata yang membuat seseorang akhirnya mengenal dan paham banyak hal yang awalnya tidak diketahui olehnya dan akhirnya menjadikan seseorang itu manusia yang lebih bijaksana dalam menghadapi suatu persoalan.
Munculnya pendekatan open-ended ini berawal dari pandangan bagaimana menilai kemampuan siswa secara objektif kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam matematika yang akhirnya membuat siswa bijak dalam berpikir dan bersikap
Banyak hal terkait dengan pendidikan, seperti teori mengenai evaluasi pendidikan, tentang bagaimana kegiatan penjaminan mutu pendidikan diperlukan, bagaimana pendidikan suatu pelajaran terlaksana dengan segala teori belajar yang diterapkan, bagaimana pendidikan dalam konteks budaya dan multibudaya dapat berjalan dalam keragaman dunia. Semua hal itu pastilah ada hubungannya antara satu dengan yang lainnya. Misalnya dalam pendidikan matematika di Indonesia dengan segala teori belajar yang pernah dan masih digunakan sampai saat ini. Kita dapat mengetahui bagaimana proses pembelajaran matematika ini berlangsung dan siswa dapat belajar matematika dengan tidak melupakan perspektif budaya di dalamnya, yang dalam ataupun di ujung proses pembelajarannya itu, mereka akan bertemu dengan kegiatan evaluasi yang merupakan bagian dari tugas semua pihak untuk tetap mengupayakan agar mutu pendidikan ini selalu baik.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

DAFTAR PUSTAKA

Amirudin, dkk. 2012. Metode Pembelajaran Pendekatan “Open-Ended”. Online: http://kelompokinovatif.blogspot.co.id/2012/11/metode-pembelajaran-pendekatan-openended.html (Diakses: 4 Februari 2018)
PANITIA PELAKSANA PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU RAYON 10 JAWA BARAT UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA. 2009. Bahan Ajar Pendidikan & Latihan Profesi Guru (PLPG). Bandung.
Fardah, Dini Kinati. 2012. Analisis Proses dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Matematika Melalui Tugas Open-Ended. Jurnal Online: https://journal.unnes.ac.id/artikel_nju/kreano/2616 (Diakses: 4 Februari 2018)
Sumardyono, dkk. 2017. Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Kelompok Kompetensi C (Pedagogik). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.
Wirahadie. 2017. Metode Pembelajaran Open-Ended. Online: http://www.wirahadie.com/2017/01/model-pembelajaran-open-ended.html (Diakses: 4 Februari 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Literasi dan Numerasi 1

Kegiatan literasi yang dilaksanakan dalam pembelajaran, bukan hanya menjadi tanggung jawab guru mata pelajaran Bahasa Indonesia ataupun guru...